Senin, 04 Oktober 2010

" Takkan Pernah Ada "

Medan. Kota ini akan terasa sangat sempit ketika kau bertemu secara tak sengaja dengan teman lamamu di suatu tempat yang tak pernah kau duga. Tapi ketika kau sangat ingin menemukan seseorang yang kau cari, kota ini akan menjadi terasa sangat luas. Sangat luas.... hingga kau tak tahu dari tempat mana kau harus mulai mencari. Banyak tempat yang ingin sesegera mungkin kau kunjungi untuk dapat secepatnya menemukan orang itu.

Jika kau pernah mendengar “cinta mampu membuat orang gila”, kau dapat menilainya sendiri dalam kisah ini. Kisah ini tentang hati, cinta, ketulusan, dan pengorbanan. Ya... pengorbanan yang gila. Segalanya bermula dari hujan... dari cewek yang sangat menyukai hujan.

***
Kau boleh memanggilnya Angel. Jika kau ingin tahu nama lengkapnya, orang tuanya menamai dia Yosephine Angelina. Cewek ini tak begitu cantik. Dia juga tak punya postur tubuh sesempurna model – model di tv. Jika harus ada penilaian untuk dirinya, kau bisa memberi nilai “biasa saja”.

Hal ini sebenarnya salah satu alasan Angel untuk tak terlalu percaya saat ada seorang cowok yang mendekati dia, mengharap cintanya, dan begitu meyakinkan dia kalo cowok itu ingin jadi pacarnya. “Apa sih yang dia suka dari aku? Nggak ada yang spesial deh kayaknya”. Hanya itu yang selalu terlintas di benak Angel.

Nama cowok itu Indra. Indra Samuel. Pertama kali Angel mengenalnya dari mantan pertamanya, Ryan. Banyak hal dan pertimbangan yang membuat Angel meragukan Indra. Pertama, dia sahabat Ryan, mantan Angel sendiri. Menurut Angel tak menutup kemungkinan kalo dia hanya dijadikan bahan permainan Ryan dan Indra. Kedua, kalopun bukan menjadi bahan permainan dua cowok itu, Angel takut Indra melakukan hal yang sama padanya seperti yang dilakukan Ryan dulu. Ya... perlakuan Ryan dulu telah berhasil membuat Angel kurang percaya pada cowok sekarang.

Jika kau ingin tahu apa yang pernah dilakukan Ryan, cowok itu menduakan Angel saat mereka pacaran. Tapi sudahlah, semua sudah berlalu. Angel sudah melupakan hal itu. Dia juga tak menaruh dendam sedikitpun pada Ryan. Sedikit air mata yang pernah menetes pada saat hal itu terjadipun kini sudah tak ada lagi.

Alasan terakhir keraguan Angel adalah perasaan Ryan. Dia memang tak tahu apakah Ryan benar – benar pernah mencintainya atau tidak. Tapi yang pasti, bukan hal yang mudah baginya untuk menjalin hubungan dengan orang yang ternyata sahabat mantannya sendiri.

Sejauh ini, hampir sebulan ini tepatnya. Angel masih menilai Indra adalah orang yang baik. Dia tak pernah memaksa Angel untuk menerima cintanya. Dia selalu bersabar dan menunggu sampai Angel benar – benar mau membuka hati untuknya. Dia juga bukan cowok penggombal seperti Ryan, yang punya segudang kata – kata manis. Lagi pula jika dia berusaha menjadi seperti Ryan, itu hanya akan membuat Angel benar – benar menutup hati untuknya. Tapi apapun itu, hingga kini Angel tetap saja belum mampu membuka hati untuk Indra. Luka bersama Ryan masih membuatnya ragu.

Sebulan lamanya Indra mendekati Angel. Setiap hari Indra memberi perhatian lewat telepon atau sms. Tak jarang dia juga curhat pada Angel tentang masalah – masalahnya dan semampunya Angel mencoba memberi respon yang baik. Angel harus bersikap sehati – hati mungkin agar Indra tak mengira Angel memberi harapan lebih padanya. Karena hingga kini Angel masih belum yakin apakah dia memang akan menerima Indra.

Hingga akhirnya waktu itu tiba. Waktu dimana Indra kembali meminta Angel untuk menjadi pacarnya. Ini adalah yang keempat kalinya dalam waktu sebulan, setelah sebelumnya Angel telah menolaknya tiga kali.

Angel tak tahu harus berbuat apa. Bukan hal yang mudah baginya untuk kembali berkata “Tidak”, setelah beberapa waktu yang lalu dia telah mencoba memberi Indra kesempatan saat tak sengaja mengatakan “Coba aja buat aku percaya” pada Indra. Masih terlintas jelas di benak Angel bahwa Indra sangat senang ketika Angel mengatakan hal itu. Ini terlalu sulit. Angel tak ingin melukai perasaan Indra.
Kejadiannya siang itu, saat Angel sms-an dengan Indra seperti biasanya. Setelah menunggu sms balasan dari Indra yang datang lumayan lama, akhirnya hape Angel bergetar juga.

1 message received
From : Indra.
Mau ga jdi pcar Aq?
Pliiiizzzz....

Entah balasan apa yang harus dia kirim, Angel bingung. Ditatapnya ponsel yang ada di tangannya, kemudian jari – jarinya mengetik balasan sms Indra.

Reply
To : Indra
Hrus dii jwb skarang?

1 message received
From : Indra
Yup...
Pliiizzz

Reply
To : Indra
Entar aquu jwb lewat telp ajj iia...

1 message received
From : Indra.
Ehm..
Ya deh...

Angel tak membalas lagi. Dia tak tahu jawaban apa yang harus dia beri. Di satu sisi hatinya berkata “Tak adil jika menolak dia hanya karena Ryan pernah melukainya”. Tapi di sisi lain hatinya juga berkata “Dia sahabat mantanku”.

Indra benar – benar berhasil membuat Angel bingung saat ini. “Huft...” Hanya itu yang bisa Angel katakan. Diletakkannya hapenya begitu saja di atas meja. Angel mencoba untuk tak terlalu memusingkan hal ini.

***
Jam 3 sore. Angel sedang ngobrol berdua dengan Putri di tempat Bimbel. Putri adalah teman dekat Angel di sekolah, di rumah, di Gereja, di tempat Bimbel, di manapun.
Putrilah yang selalu menjadi orang pertama yang tahu tentang masalah – masalah atau apapun yang terjadi pada Angel. Persoalannya adalah Angel bukan orang yang terlalu mudah untuk terbuka pada orang lain, siapapun orang itu. Dia baru akan bercerita jika waktunya memang sudah tepat. Jika teman – temannya protes untuk hal ini, Angel hanya berkata “Semua ada saatnya”. Karena memang itulah yang sebenarnya. Dia memang akan cerita, tapi hingga waktunya tepat. Dan setelah kalimat itu selesai dia ucapkan, tak ada yang bisa dilakukan temannya selain menunggu Angel buka mulut.

Seperti saat ini, saat Angel sudah tak mengerti harus membuat keputusan apa tentang dia dan Indra. Angel akhirnya menceritakan semuanya pada Putri. Tentang siapa Ryan, Indra, tentang kedekatan mereka, tentang yang dia rasakan, semuanya.
“Jadi gimana, Put?” Tanya Angel setelah mengakhiri ceritanya.
“Apanya?”
“Indra. Masa Ryan?”
“Ada rasa nggak sama dia?”
“Uhm... 25 %.” Angel menggigit bibirnya saat mengatakan hal itu.
“Cuma segitu?”
“Iya. Tapi Indra udah tahu kok. Dan dia bilang nggak masalah.”
“Ooh.. ya udah. Jalani aja.”
“Hah? Yakin? Dia sahabat Ryan, Putri.”
“So? Sampe kapan mau bersikap kayak gitu sama cowok – cowok yang mau dekat samamu hanya karena Ryan? Lagian kayaknya dia serius kok.”
“Yakin?” Tanya Angel. Putri hanya mengangguk.
Angel diam sesaat, kemudian mengangguk seolah memberi isyarat pada hati dan dirinya sendiri.

***
“Gimana? Udah?” Tanya Putri. Sore ini mereka sedang berada di depan tempat Bimbel. Suasana sudah lumayan sepi karena kelas sudah bubar sekitar setengah jam yang lalu. Yang mereka lakukan sekarang adalah berdiri di pinggir jalan, menunggu angkutan umum yang masih belum datang juga.
“Apa?” Angel pura – pura bodoh.
“Indra. Masa Ryan?”
“Loh, itukan kata – kataku.”
“Hmh... sok ngalihin pembicaraan. Bilang aja kenapa sih?”
“Penasaran?” Angel tersenyum jail.
“Gak. Gak usah dibilang. Gak penting!!!”

Angel hanya tersenyum melihat tingkah Putri. Dia tahu Puteri mulai ngambek tapi dia tak perduli. Angel malah senang melihatnya. Hingga angkutan umum mereka datang Angel masih memilih tak menceritakan apapun. “Semua ada saatnya”. Pikirnya.

***
Pagi ini, di sekolah. Seperti biasa Angel menyibukkan diri dengan hapenya. Jari – jarinya terus saja dengan lancar menekan keypad hape untuk membalas sms entah dari siapa. Mungkin dari Indra. Hanya dia yang tahu.

Tak lama Putri muncul dari balik pintu. Mendadak wajahnya berubah masam menatap Angel. Angel tahu temannya yang satu ini hanya pura – pura ngambek. Diapun memilih untuk tersenyum dan pura – pura tak perduli.

Chacha dan Dhita, dua teman Angel lainnya yang hingga kini belum tahu apa – apa tak menanyakan keanehan dua cewek ini. Hanya Putri yang kelihatannya makin penasaran, ekspresi cemberutnya tak juga hilang dari wajahnya.

***
Dua hari telah berlalu dan tak ada satupun dari ketiga cewek itu yang tahu tentang status hubungan Angel dan Indra. Bahkan Chacha dan Dhita malah belum tahu sama sekali tentang keberadaan Indra, apalagi tentang Ryan.

Hingga akhirnya pada siang itu, tak ada yang tahu kalo ternyata Chacha curiga pada tingkah Angel belakangan ini. Angel memang kelihatan lebih sering memegang hape dan anehnya sejak beberapa hari yang lalu Angel tak mengizinkan lagi seorangpun memegang hapenya.

Saat Angel lengah dan membiarkan hapenya terletak begitu saja di atas meja, tiba – tiba Chacha menyambarnya dan membawanya pergi. Sambil tertawa jahil Chacha berlari – lari kecil untuk menghindari Angel yang berusaha merebut kembali hapenya dengan wajah yang terlihat 100 % panik. Sesaat kemudian Putri dan Dhita datang. Dengan senang hati mereka ikut membantu Chacha menjaili Angel. Putri yang paling semangat karena dia memang sudah benar – benar penasaran.
“Cha, balikin.” Angel sedikit memohon. Dia tahu kalo setelah ini semuanya akan segera terbongkar. Mau tak mau dia harus cerita pada mereka tentang semuanya.
“Nggak. Apa yang kau sembunyikan sampe – sampe belakangan ini pelit minjemin hape?”
“Nggak ada, Cha...”
“Yakiiiiin?” Putri malah ngomporin.
“Ntar kalo nggak dibilang, kau nggak lulus PTN. Mau?” Ancaman yang sering Angel ucapkan setiap ingin tahu sesuatu dari temannya akhirnya berbalik padanya. Dhita yang mengucapkannya kali ini. Dan untungnya mereka berhasil. Angel menyerah.
“Hemh... iya..iya.. Ya udah sini balikin.” Kata Angel pasrah.
“Hha...” Tiga cewek itu tertawa puas.

Chacha mengembalikan hape Angel. Angel menerimanya dengan tampang sedikit kecut. Empat cewek itupun berjalan menuju bangku Angel. Mereka duduk melingkar, tiga diantara mereka bersiap mendengar cerita dari yang satunya.
“Semua ada saatnya kan, Ngel? Sekarang saatnya.” Kata Chacha.

Angel belum berkata apa – apa. Entah seperti apa ekspresi wajahnya saat ini. Dia masih belum yakin. Angel menggigit bibirnya. Kebiasaan. Dia berusaha mengatur nafasnya yang sekarang sedang tak beraturan. Tersenyum, tertawa, Angel terlihat seperti orang gila. Entah apa yang dia pikirkan, entah apa yang membuatnya sangat sulit bercerita. Yang dia tahu adalah “Bercerita tentang Indra sama saja artinya dia harus bercerita juga tentang Ryan. Huft.. ini akan sangat melelahkan”.

Tiga cewek itu masih duduk dengan tenang menatap Angel. Entah janjian atau tidak, posisi tangan merekapun sama. Menopang di dagu.
“Huft...” Angel menghela napas sesaat. Sekarang dia sudah siap untuk bercerita.
“Aku baru jadian.” Ucap Angel akhirnya, perlahan tapi pasti. Kata – kata itupun langsung saja disambut dengan teriakan histeris dari Dhita dan Chacha. Putri hanya tersenyum. Dia sudah menduga, tapi dia ingin mendengar kepastiannya langsung dari Angel. Yang harus dia lakukan sekarang adalah bersabar untuk mendengar cerita Angel selanjutnya pada Chacha dan Dhita. Tentu saja akan sangat membosankan karena dia sudah pernah mendengar cerita ini sebelumnya.
“Cieeee... pacar pertama.” Teriak Dhita.
“Siapa sih?” Tanya Chacha. Dia penasaran siapa akhirnya orang yang dipilih Angel. Masih teringat jelas di benaknya bahwa Angel lumayan selektif dalam urusan pacaran. Bukan tak ada cowok yang dekat dengannya selama mereka kenal. Banyak sebenarnya, tapi tak pernah berujung jadian karena belum apa-apa Angel sudah terlanjur bosan berhubungan dengan orang - orang itu. Bahkan Chacha pernah bilang “Nggak ada manusia yang sempurna, Ngel. Jadi jangan terlalu selektif.” Dan ketika kini Angel sudah menemukan orang yang tepat, wajar kalo Chacha ingin tahu se-detail mungkin.
“Kita kenal nggak? Anak mana? Ganteng?” Dhita memborong pertanyaan.
Angel nggak langsung menjawab. Dia hanya duduk tenang dan tersenyum melihat kehebohan dua temannya. Kini keadaannya berbalik dari keadaan semula tadi.
“Sebenarnya sih pacar kedua...” Ucap Angel perlahan.
“Haaahhhh?” Chacha dan Dhita kaget berbarengan.
“Kok bisa? Kenapa nggak pernah cerita?” Tanya Dhita.
“Kan kita libur semesteran.” Angel ngasih alasan.
“Kapan sama yang pertama?” Tanya Chacha.
“Orangnya kita kenal dekat nggak? Andre ya?” Tebak Dhita.
“Desember. Waktu kita ujian semester.” Jawab Angel.
“Desember? Sekarang Januari. Haahh? Kok cepat? Emang sama yang pertama berapa lama?” Dhita bertanya lagi.
“Tiga hari.”
“What???” Entah sudah keberapa kalinya Chacha dan Dhita kaget mendengar jawaban – jawaban Angel.
“Udah, Ngel. Ceritain aja langsung semuanya. Kelamaan kalo kayak gini terus.” Usul Puteri.
“Emang aku maunya gitu. Tapi lihat sendiri kan mereka nyosor terus dari tadi.”
“Hehehe...” Chacha dan Dhita tertawa berbarengan. “Ya udah... ya udah.. ceritainlah semuanya.” Ucap Dhita akhirnya.
“Tapi jangan dipotong, ya!!” Syarat dari Angel hanya dijawab dengan anggukan.

Dan Angelpun mulai menceritakan semuanya. Tentang siapa dan dari mana dia mengenal Ryan, kapan mereka jadian, kenapa mereka putus, dari mana dia mengenal Indra, berapa lama dia pdkt-an dengan Indra, dan akhirnya kapan mereka jadian. Hanya ekspresi kaget yang bisa ditunjukkan Chacha, Dhita, dan Puteri ketika Angel menceritakan bagaimana dia dan Indra bisa jadian.

“Sore itu, di tempat bimbel Angel menelepon Indra. Seperti janjinya, dia akan memberi jawaban pada Indra lewat telepon. Dia sengaja melakukannya, karena dia ingin benar – benar meyakinkan dirinya apakah dia akan menerima Indra atau tidak. Cukup banyak hal yang ditanyakan Angel pada Indra sebelum dia memberi jawaban. Dia hanya ingin benar – benar memastikan bahwa Indra tak akan sama seperti Ryan atau tak akan melakukan hal yang sama seperti yang pernah dilakukan Ryan.

Cukup banyak pertanyaan yang diberikan Angel tentang hubungan mereka nantinya dan telah dijawab oleh Indra, namun tak juga mampu meyakinkan dirinya bahwa dia akan menerima Indra. Hingga akhirnya, satu hal yang mungkin konyol tapi Angel percaya ini jalan satu – satunya dia lakukan juga..........
“Di sana mendung, Ndra?”
“Iya.”
“Ya udah. Kalo sampe jam 12 malam nanti hujan, berarti kita jadian. Tapi kalo nggak... ya nggak...”
“Hah?? Apa – apaan tuh? Kalo terima ya terima. Tapi kalo nggak aku nggak maksa kok.” Wajar kalo Indra menolak, karena ide Angel ini memang konyol.

Tapi Angel tak perduli. Dia tetap meyakinkan Indra agar cowok itu setuju, dan akhirnya berhasil. Indra akhirnya setuju.

Angel tak sabar menunggu hingga malam tiba, mungkin Indra juga. Entahlah.... apa memang Angel ditakdirkan untuk jadian dengan Indra atau ini hanya kebetulan saja. Tak ada yang menduga kalo ternyata hujan benar – benar turun sore itu. Dan itu artinya Angel harus menerima Indra.
Tak ada keterpaksaan di hati Angel saat dia berkata “Ya” ketika Indra menanyakan kejelasan status hubungan mereka pada malam harinya. Dia memang belum sepenuhnya menyayangi Indra, bahkan rasa percayanya pun belum sampai 50 % pada cowok itu. Tapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Meskipun hanya di tempatnya yang hujan dan di tempat Indra tidak, dia akan jujur berkata bahwa memang turun hujan. Dan dia akan mencoba menerima Indra juga mencintainya.

***
Sudah seminggu Angel jalan dengan Indra. Waktu terasa berjalan lambat dan sejauh ini hubungan mereka baik – baik saja. Angel memang masih belum mampu mencintai Indra seutuhnya, tapi dia selalu berusaha untuk sedapat mungkin melakukan yang terbaik, mempercayai Indra, dan menerima dia apa adanya. Sedikit pertengkaran kecil beberapa kali terjadi, tapi mereka mampu menyelesaikannya dengan baik.

Memasuki pertengahan minggu kedua, Angel mulai merasakan ada yang berubah dari Indra. Indra nyaris tak seperti saat dia masih mengharap cinta Angel dulu. Namun Angel hanya meredam rasa itu sendiri. Dia tak berniat menanyakannya pada Indra dan mencoba meyakinkan dirinya untuk berpikir positif pada perubahan itu.

Pada pertengahan minggu ketiga, Angel dapat merasakan bahwa Indra memang sudah berubah. Kata “Putus” sempat terlintas dibenaknya. Namun Angel mengurungkan niatnya saat mengingat bahwa dia dan Indra pernah berjanji untuk membuat hubungan mereka dapat bertahan lama. “Ngapain juga kemarin aku nerima dia, kalo toh aku mau mutusin dia dalam waktu secepat ini? Ini bukan tujuanku.” Pikir Angel. Ini untuk yang kesekian kalinya dia memaksa hatinya mengalah pada pikirannya. Tak ada seorangpun yang tahu tentang hal ini selain Angel, hati, dan pikirannya.

Tepat pada minggu ketiga. Angel sudah benar – benar kehilangan Indra yang dulu. Sejak beberapa hari yang lalu Angel sudah meyakinkan dirinya bahwa dia telah siap jika hubungan mereka harus berakhir pada minggu ini. Mungkin Indra sudah bosan padanya atau mungkin ada orang lain yang telah mengisi hatinya. Yang Angel tahu hingga saat ini hanyalah dia sudah mencoba untuk menjadi yang terbaik dan jika Indra tak pernah merasakannya, itu diluar kontrolnya.

Tadi malam Indra tak meng-sms-nya dan hingga pukul 09.00 pagi ini belum satupun sms Indra yang masuk. Ini tak seperti biasanya. Terbersit firasat jelek di pikiran Angel, namun kembali dia berusaha untuk positive thinking.

Jam istirahat pertama. Akhirnya hape Angel bergetar juga. Dia tak langsung menyambar hape itu dan membiarkannya tetap tergeletak begitu saja di atas meja. Tak sedikitpun niatnya untuk membaca sms yang masuk, tak perduli apakah itu mungkin dari Indra atau dari siapa saja. Semenit kemudian Angel meraih hapenya.

1 message received
From : Indra.
Met pgi Angel...
Apa kbr?
Lebh baik kita putus aja ya.
Aku gak mau menyakiti qm lebh dalm lgi.

Angel hanya diam membaca sms itu, kemudian tersenyum kecil. Senyum yang dipaksakan untuk menutupi rasa di hatinya yang pasti saat ini sedang sangat – sangat terluka. Mungkin hingga kemarin malam hubungan mereka seolah terlihat masih baik – baik saja. Tapi bagi Angel, hubungan ini sebenarnya sudah terasa tak sehat sejak beberapa minggu lalu. “Hmh.. udah ku duga.” Ucap Angel dalam hati. Tak sedikitpun air mata Angel menetes. Ini sungguh berbeda saat dia putus dengan Ryan dulu. Mungkin karena dia memang sudah benar – benar siap jika hubungan ini harus berakhir.
Angel masih diam. Sesaat kemudian dia membalas sms itu. Dia tak berniat mempertahankan hubungan ini meski sesungguhnya hatinya harus mengakui bahwa dia telah berhasil meyakinkan dirinya untuk menyayangi Indra atau mungkin mencintainya. Tapi jika Indra sudah tak mencintainya atau mungkin tak pernah mencintainya, Angel tak mungkin memaksa. Mungkin ini memang jalan yang terbaik.
Isi sms balasan dari Angel adalah untuk meminta alasan Indra mengakhiri hubungan ini. Tak ada alasan yang masuk akal. Indra hanya berkata “Hanya dia dan keluarganyalah yang perlu tahu alasannya. Angel harus mencari cowok lain yang bisa membuatnya bahagia karena Indra hanya cowok brengsek yang tak pantas untuknya.”

Beberapa persepsi terlintas di benak Angel. Mungkin hari ini batas waktu taruhan atau permainan yang telah disepakati Indra dan Ryan, jika ini memang sebuah permainan. Atau mungkin Indra sudah menemukan orang lain yang lebih baik dari Angel. Atau mungkin Angel telah membuat kesalahan fatal yang membuat Indra lebih memilih untuk putus. Atau.... ah... entahlah. Entah apa saja yang ada di pikirannya saat ini, dia sendiripun tak mengerti. Angel hanya bisa pasrah.

Dhita, Chacha, dan Puteri. Tiga cewek yang dari tadi asik ngerumpi itupun mengalihkan perhatian mereka pada Angel. Kediaman Angel yang tak seperti biasanya ternyata mengusik rasa keingintahuan mereka. Mereka berjalan menghampiri Angel.
“Kenapa, Ngel? Berantem sama Indra, ya?” Tanya Dhita.
“Indra mutusin.” Jawab Angel singkat.
“Haaahhh??” Tiga cewek itu kaget berbarengan.
“Anjrit!! B**i dia tuh.” Dhita mengumpat.
“Kenapa Dhit?” Angel bertanya polos. Dia tak menyangka Dhita semarah itu.
“Aku nggak suka aja sama caranya. Apa sih maksud dia?”
“Kau punya salah mungkin, Ngel?” Tanya Chacha.
“Aku nggak ingat aku punya salah apa sama dia. Mungkin dia udah bosan.”
“Hah? Seenak perutnya aja ninggalin kau setelah bosan. Alasan dia apa?”
Angel hanya menggeleng.
“Kau nggak tanya?”
“Udah. Dia bilang kalo aku harus cari cowok laen yang nggak sebrengsek dia.”
“Hmh....” Dhita menggeleng. “Tapi reaksimu kok gini doang sih, Ngel? Kau udah siap putus sama dia?”
“Udah sih. Sebenarnya aku udah feeling. Tinggal nunggu waktu aja. Dan sekarang kebukti.”
“Oalah Ngel... Ngel....” Dhita mengusap bahu Angel. Chacha dan Puteri ikut menatap prihatin.
“Sabar Ngel. Pasti dapat karma orang kayak gitu.” Sumpah Chacha.
Angel tersenyum kecil. Dia seolah meyakinkan temannya kalo dia bisa tegar.
“Ya udahlah, aku nggak apa – apa kok.” Ucap Angel. Tiga cewek di depannya masih menatapnya. Entah apa yang ada di pikiran mereka bertiga. Satu pelukan hangat mereka berikan. Mungkin inilah dukungan terbaik yang harus diterima Angel sekarang.

***
Sore harinya, Angel belum juga pulang karena ada les tambahan dari sekolah. Sekeras apapun dia mencoba mengarahkan matanya ke papan tulis, memusatkan pikirannya untuk memperhatikan ke depan, dan menjaga agar telinganya mampu mendengar semua celotehan gurunya, Angel tetap saja tak mampu membuang Indra dari pikirannya. Sesungguhnya hatinya masih mencari – cari alasan apa yang sebenarnya dimiliki Indra sehingga putus adalah jalan terakhir yang dipilihnya.

Pada jam pelajaran Bahasa Inggris tadi adalah kali pertama Angel cabut satu les, selama tiga tahun dia duduk di bangku SMA ini. Dia keluar bareng Dhita. Mereka memilih toilet sebagai tempat yang tepat untuk nelepon Indra. Percuma. Nggak ada hasil yang pasti yang bisa membuat Anggel keluar dari kebingungannya. Masih tak ada alasan yang jelas. Yang semakin membuat Angel bingung adalah Indra memutuskannya, tapi cowok itu berkata bahwa dia masih menyayangi Angel.
Angel menatap hapenya. Dia baru melihat kalo ada satu sms masuk.

1 message received
From : Indra.
Met Sore Ngel...
Sory Aq udh ganggu qmu. Sory jga soal yg tdi pgi.
Aq jga bingung sma ap yg udh aq lakuin. Mw gak qmu jdi pcar aq lgi??
Aq jnji gak akn nyaktin qmu lgi. Tpi aq gak mksa koq. It smw tersrah qmu.

“Huft...” Hanya itu yang bisa Angel katakan. Cowok yang satu ini menambah satu lagi kebingungan di hatinya. Angel nggak membalas sms itu. Diletakkannya kembali hapenya di atas meja, lalu pandangannya kembali dipusatkan ke depan.

***
Seminggu sudah Angel putus dari Indra. Seminggu pula Dhita, Chacha dan Puteri melihat ada yang aneh pada Angel. Seperti ada beban berat yang sedang dia pikirkan. Tak ada tawa seperti biasanya, tak ada selera untuk makan, tak ada keseriusan untuk belajar atau memperhatikan setiap guru yang menerangkan pelajaran, bahkan tak sedikitpun berniat bergabung saat tiga sahabatnya sedang tertawa keras membicarakan sesuatu. Hanya ada kecemasan yang tergambar di wajahnya. Setiap pagi matanya terlihat lelah, seperti kurang tidur. Tak pernah ada alasan atau penjelasan yang dia beri setiap ditanya “Kenapa?” Angel hanya menggeleng dan berkata “Aku baik – baik aja.” Angel nyaris kelihatan seperti orang gila.

Pulang sekolah. Angel masih duduk dan terdiam di bangkunya ketika temannya yang lain sudah berkemas untuk segera pulang. Sesekali Angel terlihat menggigit bibirnya, menutup wajahnya, menggelengkan kepalanya, entah kecemasan apa yang sedang dia rasakan sekarang.
“Kenapa sih, Ngel? Masih mikirin Indra?” Tanya Chacha yang ternyata sudah ada di depan Angel bersama Dhita dan Puteri.
“Kenapa harus dipikirin sih, Ngel? Bukannya kau yang bilang udah siap putus sama dia? Sekarang apa lagi?” Tanya Dhita.
“Masih banyak cowok, Ngel.” Tambah Puteri.
Angel hanya diam. Mungkin ini saatnya untuk menceritakan hal yang dipendamnya selama seminggu ini, tapi dia tak tahu harus mulai dari mana.
“Ngel.. Ngapain sih dipikirin cowok brengsek kayak gitu? Dia udah milih untuk putus. Kau juga udah siap, kan? So... apalagi?” Kata Dhita.
“Udah mau UN kita, Ngel. Belajar yang harus dipikirin sekarang. Bukan cowok bejat kayak gitu.” Tambah Puteri.
“Atau kau mau kita bantuin buat ngebalas dia?”
“Nggak. Masalahnya nggak segampang itu.” Angel akhirnya buka mulut.
“Terus apa?” Tanya Chacha.
Angel tak menjawab. Dia masih ragu apa memang harus cerita atau tidak.
“Cerita aja lah, Ngel. Siapa tahu ada yang bisa kami bantu.” Kata Dhita.
“Indra kena kanker otak.” Ucap Angel akhirnya.
“Haaah??” Tiga cewek itu kaget berbarengan.
“Kata siapa?” Tanya Chacha.
“Indra sendiri yang bilang.”
“Serius? Kapan?”
“Minggu lalu. Setelah kami putus, sorenya Indra sms. Dia minta balikan. Tapi aku nggak balas karena aku masih bingung. Besoknya dia masih sms. Tapi aku balasnya jutek. Aku bilang kalo dia nggak perlu tahu lagi tentang aku. Aku juga bilang dia pembohong dan minta dia ngaku kalo selama ini dia emang nggak pernah sayang sama aku. Tapi Indra malah agak marah. Dia bilang aku nggak ngerti apa – apa. Dia ngelakuin ini juga terpaksa karena nggak pengen aku menderita. Dia nggak mau aku ikut susah karena punya pacar penyakitan yang hidupnya tinggal beberapa kalender lagi. Itu alasan Indra mutusin aku walau sebenarnya dia bilang dia masih sayang.”
“Dan kau percaya sama semua itu?” Tanya Dhita.
“Aku nggak tahu. Hati sama pikiranku nggak pernah kompak kalo soal Indra. Hatiku rasanya biasa aja. Tapi nggak tahu kenapa pikiranku selalu cemas mikirin dia.”
“Apa yang buat kau nggak yakin?”
“Indra bilang dia sakit sejak kelas dua SMP. Setahu aku nggak ada penderita kanker yang bisa bertahan selama itu tanpa ada tindakan medis sedikitpun. Lagian selama kami jalan, aku nggak ngelihat sedikitpun tanda – tanda kalo dia sakit.”
“Kalo nggak yakin, apa yang buat kau nyaris kayak orang gila seminggu ini?”
“Aku juga bingung. Pikiranku selalu maksa aku untuk mikirin Indra dan percaya sama dia. Kemarin aku browsing di internet. Aku sengaja cari tahu tentang penyakit kanker. Aku nggak tahan ngebaca apa yang ada di sana, ngelihat gambar – gambarnya. Aku nggak bisa bayangin sesakit apa rasa yang harus ditahan Indra sekarang.”
Angel merogoh kantong dan mengambil hapenya.
“Ini.” Ucapnya sambil menyerahkan hape itu. Dhita yang menerima.
“Iiih.. apa ini? Tanya Dhita. Ekspresi wajahnya terlihat jijik. Chacha dan Puteri juga begitu.
“Itu gambar – gambar perkembangan penyakit kanker dan tempat berkembangnya di otak. Kemarin aku download dari internet.”
“Kenapa nggak dioperasi aja sih?”
“Indra nggak mau. Dia bilang nggak mau ngerepotin keluarganya. Lagian dia udah nggak punya semangat untuk hidup. Dan dari yang aku baca, itu emang dampak psikologis yang wajar bagi penderita kanker. Buat mereka mati tuh pilihan yang paling baik.” Angel menggigit bibirnya, sesaat pandangannya menerawang entah kemana. “Aku lebih suka Indra ninggalin aku karena ada cewek lain dari pada karena alasan ini.” Angel menundukkan kepalanya, berusaha menutupi genangan air mata yang hampir saja menetes di pipinya.
Chacha, Dhita, dan Puteri nggak berkomentar apa - apa.
“Sampe sekarang dia tetap nggak mau dioperasi?” Puteri kembali bertanya.
“Beberapa hari kemarin aku udah coba bujuk dia. Aku yakinkan dia masih ada harapan untuk sembuh walaupun itu kecil. Itu yang aku tahu dari apa yang aku baca. Dan akhirnya dia setuju. Senin semalam dia bilang dia mulai dirawat.”
“Loh, bagus kan kalo gitu. Terus apalagi?”
“Aku nggak ngerti. Perasaanku sekarang campur aduk antara pikiranku yang cemas dan hatiku yang setengah nggak percaya.”
“Nggak percaya gimana?”
“Nggak tahu kenapa aku nggak terlalu yakin sama Indra. Terakhir kami sms-an waktu dia setuju buat dioperasi. Dan setelah itu nomor dia nggak bisa dihubungi lagi nomor adik sepupunya yang biasa sms aku juga nggak aktif. Awalnya aku pikir mungkin itu karena dia nggak mau aku tahu lagi keadaan dia setelah dioperasi. Tapi waktu semalam aku tanya sama tetanggaku yang satu sekolah sama Indra, dia bilang Indra sekolah. Gimana aku nggak bingung kalo kayak gitu.”
Chacha, Dhita, dan Puteri kembali diam, seperti ikut berpikir.
“Kapan dia bilang bakal dioperasi?” Tanya Dhita.
“Besok. Mungkin nggak sih orang yang besok mau dioperasi, tapi sampe hari ini belum dirawat juga?” Angel balik bertanya.
“Mungkin aja sih sebenarnya.” Jawab Puteri. “Emang tahu darimana kalo sampe hari ini dia belum dirawat?”
“Tadi aku sms tetanggaku itu lagi. Dan katanya Indra tadi sekolah.”
“Tetanggamu itu salah lihat mungkin. Coba tanya ke yang lain.” Usul Dhita.
“Mau tanya ke siapa lagi?”
“Ehm.... Ryan” Usul Chacha.
“Ryan???” Angel masih ingat jelas kalo dia udah menghapus nomor Ryan sejak bulan lalu, setelah Indra mengatakan suatu hal tentang Ryan yang membuat dia sangat – sangat membenci cowok itu dan memutuskan untuk menghapus semua yang berhubungan dengan Ryan dari hapenya. “Kenapa harus Ryan?” Angel malah bertanya.
“Siapa lagi, Ngel? Cuma Ryan pilihan satu – satunya. Emang kenapa sih?”
“Aku udah nggak punya nomor Ryan.”
“Tanya sama temanmu itu.”
Angel masih bingung. Dia nggak percaya kalo meng-sms Ryan benar – benar harus menjadi pilihan terakhir. Cewek itu menggigit bibirnya pelan. Kebiasaan.
“Udahlah, Ngel. Jangan sampe ada penyesalan dikemudian hari kalo sampe ada apa - apa sama Indra.” Dhita coba meyakinkan.
“Iya, Ngel. Nggak saatnya sekarang untuk memperbesar gengsi.” Chacha ikut membujuk.
“Terus sms Ryan buat apa?” Entah kenapa pertanyaan bodoh itu tiba – tiba keluar dari mulut Angel.
“Ya ampuuun... buat tanya ke dia tentang Indralah sayaaang... emang udah tahu Indra pastinya hari ini sekolah atau nggak? Atau kalo udah nggak sekolah, dia dirawat di rumah sakit mana?”
“Belom.” Jawab Angel polos.
“Ya udah...”
“Jadi Cuma Ryan jalan satu – satunya?”
“Iya!!” Jawab tiga cewek itu berbarengan. Dhita menyerahkan hape Angel, cewek itu menerimanya.
Angel memainkan jari – jarinya di atas keypad hape. Semenit setelah sms itu dikirim pada tetangganya, Angelpun mendapat balasan.
“Ini nomor Ryan. Telepon atau sms?” Tanya Angel.
“Telepon aja. Biar lebih jelas.” Jawab Puteri.
“Terus siapa yang ngomong?”
“Yang jelas nggak salah satu dari kami.” Jawab Chacha.
“Argggh.... masa harus aku?” Angel nggak yakin. Dia masih ingat kalo dia dan Ryan habis saling ejek waktu mereka ketemu dua hari yang lalu. Itu yang sebenarnya membuat Angel ragu. Gimana kalo nanti Ryan masih mempersoalkan hal itu??
“Sekarang atau nggak sama sekali? Turunkan gengsi ke Ryan atau nyesal misalkan hal buruk terjadi sama Indra?” Dhita meyakinkan Angel.
“Hmh... yaudahlah.” Angel menekan – nekan kembali keypad hapenya. 085761xxxxxx. Diall...
Angel nggak terlalu tenang menunggu jawaban telepon dari Ryan. Sampe akhirnya... “He.. Halo...” Kata Angel setelah ada jawaban dari sana. Ekspresi wajahnya terlihat aneh, nada bicaranya juga. Chacha, Dhita, dan Puteri tertawa geli melihatnya. Nggak sampe lima menit, pembicaraan dengan Ryan selesai.
“Apa?” Ucap Angel jutek.
“Cieeee... hwakwakwakk.....” Tiga cewek itu menertawai Angel.
“Argggh... udahlah.. jadi sekarang gimana?”
“Ryan bilang apa?” Puteri masih setengah tertawa.
“Dia bilang emang Indra tadi sekolah. Tapi pulang les ketiga. mungkin nggak kalo pulang sekolah tadi dia langsung ke RS?”
“Mungkin aja sih. Soalnya papaku kemarin kayak gitu.” Jawab Puteri.
“Ya udah, jadi sekarang gimana?” Tanya Dhita.
“Ryan bilang nggak Indra dirawat di mana?” Tanya Chacha.
“Nggak.”
“Kenapa nggak ditanya?”
“Lupa. Hehehe...”
“Hmh... ya udah telepon lagi.”
Angel kembali menelepon Ryan. Kali ini dia sudah tak canggung lagi. Sekali... dua kali... tiga kali... dua puluh kali mungkin Angel sudah mencoba menghubungi Ryan tapi nggak ada jawaban. Aneh. Nggak mungkin saat ini Ryan sedang tidur.
“Gimana?” Tanya Dhita.
“Nggak diangkat.”Angel menggeleng.
“Terus sekarang gimana?”
“Aku nggak tahu. Satu minggu ini kita sibuk les. Kalo emang Indra dirawat di RS, aku cuma punya waktu hari ini.” Jelas Angel.
“Kalo nunggu sampe hari Sabtu?” Tanya Chacha.
“Kelamaan kayaknya, Cha.” Jawab Puteri.
“Kemarin Indra bilang kalo dia diperiksa di Pringadi.” Angel memberitahu.
“Terus? Sekarang kau mau ke sana?”
“Nggak tahu.....”
“Ya udah, nanti atau besok coba aja telepon Ryan lagi. Sekarang kita pulang aja. Kalopun mau ke Pringadi, nggak bisa sekarang. Udah terlalu sore. Pasti jam besuk udah habis.” Kata Puteri.
“Hmh.... ya udahlah. Kita pulang.

***
Sabtu...
Kalo memang Indra sudah dirawat sejak Selasa, itu artinya sudah lima hari Indra dirawat di rumah sakit. Tapi sampe sekarang belum sekalipun Angel menjenguk Indra.
Angel bukannya tak mencari tahu tentang keberadaan Indra. Dia sudah berusaha menghubungi semua nomor Indra, tapi tak ada yang aktif. Nomor adik sepupu Indra juga tak bisa dihubungi. Ryan yang menjadi harapan satu – satunya Angelpun sudah tak pernah mengangkat teleponnya lagi. Terakhir Ryan mengangkat telepon Angel pada hari Kamis. Itupun mungkin karena Angel menggunakan private number. Jadi Ryan tak tahu kalo itu nomor Angel. Waktu itu Ryan bilang kalo Indra dirawat di RS. Adam Malik, lt. 2. Tapi dimana ruangannya Ryan tak memberi tahu.

Jam 10.00 pagi. Angel masih di rumah. Hari ini dia putuskan untuk tidak sekolah karena ingin mencari tahu keberadaan Indra. Terlalu banyak kejanggalan yang dia lihat yang membuat dia sangat ingin membuktikan apa Indra benar – benar sakit atau tidak. Beberapa hari yang lalu Angel menanyakan kembali pada tetangganya dan tetangganya bilang kalo sampai hari Rabu Indra masih terlihat di sekolah.
Angel mengambil hapenya. Berkali – kali dia mencoba menghubungi Ryan, tapi tetap saja tak bisa. Tak mungkin ini jam pelajaran, karena Angel yakin betul ini jam istirahat sekolah Ryan.

Angel mengutak – atik hapenya, mencoba mencari – cari nomor mana yang mungkin bisa dihubungi. Ada satu nomor. Nomor ini pernah masuk ke hape Angel. Orang itu memang tak memberitahukan siapa dia, tapi Angel tahu kalo sebenarnya nomor itu ada hubungannya dengan Indra. Waktu itu Angel sengaja pura – pura tidak tahu. Tapi kali ini tak ada pilihan lain. Seperti biasa, Angel menggunakan private number. Angel men-diall nomor itu dan menunggu beberapa saat. Lima kali Angel menghubungi nomor itu dan teleponnya masuk, tapi tak sekalipun ada jawaban. Mungkin pemilik nomor itu tahu bahwa itu Angel. Satu hal yang Angel yakini hingga kini “Mungkin Indra memang tak ingin Angel tahu keadaannya setelah dioperasi”.

Angel memutar otaknya. Dibukanya sekali lagi daftar kontak yang ada di hape-nya. Hanya tinggal satu nomor yang menjadi harapan Angel. Nomor Rico, adik sepupu Indra. Sejak Angel dan Indra putus nomor itu memang sudah tak aktif lagi. Tapi Angel tak perduli. Dia tetap mencoba.

Keberuntungan berada di pihak Angel. Entah kenapa nomor itu mendadak aktif. Tak begitu lama, telepon itu akhirnya diangkat juga. “Halo...” Ucap Angel setelah mendengar jawaban dari seberang sana.

Lima belas menit lamanya Angel terlibat percakapan dengan Rico. Lumayan sulit Angel mendapatkan info dari Rico. Mungkin Indra yang menyuruhnya tutup mulut. Tapi Angel tak perduli. Berbagai cara dilakukan Angel untuk membujuk Rico. Mulai dari mengancam dengan sedikit bersumpah “Rico tidak akan naik kelas jika dia berbohong”, “Rico nggak akan mendapat pacar seumur hidup”, dan dengan bujukan “Dia akan melakukan apapun untuk Rico asal Rico memberitahunya”.

Untungnya usaha Angel tak sia – sia. Memang awalnya Rico berbohong. Pertama Rico bilang dia tak tahu dimana Indra. Tapi Angel tak percaya ada orang yang tinggal serumah namun tak saling tahu tentang keberadaan masing – masing.

Ancaman plus sumpah Angel yang pertama akhirnya membuat Rico mengatakan bahwa Indra dirawat di RSCM, Jakarta. Namun Angel tak percaya karena bukan ini jawaban yang Ryan berikan kemarin. Angel kembali memaksa Rico mengaku dengan ancamannya yang kedua dan jawaban Rico berubah. Dia bilang kalo Indra dirawat di RS. Elisabet. Angel yakin kalo Rico masih berbohong. Dia berpikir sejenak. Sebenarnya Angel ingin mengatakan bahwa “Ryan bilang Indra dirawat di Adam Malik”. Namun Angel sengaja menunggu agar Rico sendiri yang mengatakannya.

Bujukan terakhir Angel akhirnya mampu membuat Rico memberi jawaban yang cocok dengan Ryan. Indra dirawat di RS. Adam Malik, lt. 2, kamar Melati. Ucapan “Terimakasih” dari Angelpun mengakhiri percakapannya dengan Rico.

Angel menghela napas. Dia sudah dapatkan info yang dia mau. Yang harus dia lakukan sekarang tinggal membuktikan apakah Indra benar – benar sakit atau tidak. Entah seperti apa keadaan Indra setelah dia dioperasi. Tapi seperti apapun itu, Angel telah berjanji pada dirinya sendiri kalo dia tak akan menjadi cewek tak punya hati yang meninggalkan Indra begitu saja jika Indra masih menginginkannya.

***
Jam 2 siang. Angel sedang berada di rumah Dhita. Dhita telah berjanji untuk menemani Angel ke RS. hari ini. Bagaimanapun juga dia harus membuktikan sendiri bagaimana keadaan Indra.

Ada keanehan yang Angel lihat ketika tiba – tiba saja hujan turun padahal cuaca terik begini. “Apa aku nggak diizinkan untuk pargi, ya?” Tanya Angel pada dirinya sendiri. Tapi Angel buru – buru membuang pikiran jelek itu. Entahlah, entah kenapa segala hal yang berhubungan dengan Indra selalu memaksanya untuk berpikiran positif.

Setengah jam kemudian hujan berhenti dan Dhita sudah siap. Mereka pergi.

***

Setengah jam lama perjalanan yang harus mereka tempuh dan sekarang mereka sudah berada tepat di depan RS. Adam Malik. Ada sedikit kecemasan yang Angel rasakan. Terlalu banyak pikiran imajinatif yang sedang melayang – layang diotaknya. Dia juga tak tahu apa yang harus dia lakukan jika ternyata Lola, mantan yang kata Indra sudah tak ingin dia lihat, dia kenal, dan dia perdulikan lagi namun masih tetap saja menggangu hidupnya dan mengharap cintanya tiba – tiba ada di ruangan itu. Saat Angel menelepon dengan private number tadi, Rico juga sempat bertanya apakah yang menelepon itu Lola, namun Angel tak terlalu memperdulikannya walaupun sesungguhnya Angel ingin tahu kenapa Rico bisa berpikir kalo itu adalah Lola.

Namun segala pikiran jelek itu segera Angel hilangkan setelah Dhita meyakinkannya bahwa semuanya akan baik – baik saja.

Angel dan Dhita melangkahkan kaki mereka memasuki pekarangan RS. Mereka langsung menuju ke lt. 2. Tak ada Receptionist di sekitar tempat mereka berdiri sekarang sehingga mereka putuskan untuk bertanya pada seorang cleaning service.

Angel lumayan kaget ketika dia bertanya pada CS itu “R. Melati sebelah mana?” Dan di jawab “Di sini nggak ada R. Melati.” Lalu Angel hanya berkata “Terima kasih.” sambil tersenyum. Angel dan Dhita saling pandang. Angel dapat merasakan kalo Dhita juga berpikir ada yang aneh. Kelihatan dari ekspresi wajahnya.

Angel memang curiga, tapi dia tak memutuskan untuk langsung pulang. Dia tahu mustahil menemukan seseorang yang dia tak tahu pasti ada di ruangan mana di RS. sebesar itu. Tapi Angel tak perduli. Dia memutuskan untuk tetap mencari Indra.

Angel mulai mengelilingi lt. 2 A RS. itu. Dia tak tahu harus mulai darimana. Pilihan satu – satunya adalah mulai dari tempatnya berdiri saat ini.

Setelah dua kali tanpa sadar mengelilingi tempat yang sama dan melihat dari jauh semua pasien di setiap ruang kamar yang ada, akhirnya mereka menemukan juga satu pusat informasi di sudut ruangan. Angel sedikit ragu untuk bertanya, tapi diam bukanlah pilihan terbaik yang harus dia lakukan jika memang ingin mendapat informasi. Angel menghampiri meja informasi itu.
“Siang, Suster. Kamar pasien Indra dimana, ya?” Tanya Angel.
“Indra Samuel, 18 tahun?” Suster itu balik bertanya.
“Iya suster.”
“Yang kulitnya putih, pake kacamata?”
“Iya suster. Yang hari Rabu kemarin habis dioperasi.”
“Ooh.. semalam sudah pindah ke VIP A di lt. 3.” Jawab suster itu.
“Makasih, Suster.” Kata Angel sambil tersenyum.

Angel tersenyum menatap Dhita. Mungkin isi hati mereka saat ini hampir sama. Lega. Bukan karena Indra sakit, tapi karena Indra memang ada di RS. itu. Dhita dan Angel langsung menuju VIP A di lt. 3. Mereka harus menaiki tangga yang cukup panjang karena di sana tak ada lift.

Tiba di lt. 3, mata Angel tertuju pada satu papan daftar pasien yang terpampang di dinding. Tertera nama Indra S. Di barisan paling atas. Hanya itu satu – satunya nama Indra di sana dan harusnya sudah dapat dipastikan itulah Indra yang dicari Angel. Tapi diagnosa penyakit “Neuron” yang tertera di sana membuat Angel bingung. Setahunya Indra sakit kanker otak, bukan Neuron. Akhirnya Angel putuskan untuk bertanya pada receptionist yang ada di sana.
Satu keanehan baru ditemukan Angel ketika.....
“Permisi Suster. Kamar pasien Indra yang pindahan dari lt. 2 sebelah mana, ya?”
“Nyonya Indra?”
“Bukan, Suster. Indra. Indra Samuel. Laki – laki, orangnya putih dan pake kaca mata. Tadi suster yang di lt. 2 bilang dia semalam pindah ke VIP lt. 3.” Angel berusaha menjelaskan sedetail mungkin.
“Tapi di sini hanya ada satu Indra. Nyonya Indra. Usianya 48 tahun.” Suster itu terlihat yakin dengan jawabannya.

Hal ini membuat Angel bingung. “Bagaimana bisa di satu RS. ada dua informasi yang berbeda tentang satu pasien?” Angel menatap Dhita.
“Gimana?” Tanya Dhita.
Angel hanya menggeleng.
“Ya udah, kita coba aja lihat ke kamar Nyonya Indra dulu.” Usul Dhita. Angel setuju. Mereka berjalan menuju kamar Nyonya Indra. Selama lima menit mereka hanya berdiri di depan kamar itu. Tak ada yang berani masuk bahkan walau hanya mengintip sekalipun. Akhinya mereka putuskan untuk kembali ke lt. 2, mencoba memastikan apa mereka tak salah informasi.

Mereka kembali menuruni tangga yang tadi. Angel sudah merasa lelah dan dia yakin Dhita juga merasakan hal yang sama karena ternyata sudah satu jam mereka mencari di RS. itu.

Tak lama setelah bertanya di lt. 2, Angel dan Dhita kembali ke lt. 3. Dia sudah bertanya pada suster yang tadi dan jawabannya tetap sama. Bahkan suster itu telah berhasil meyakinkan Angel dengan menunjukkan buku daftar nama pasien dan di dalam buku itu ada nama Indra yang baru saja dioperasi pada hari Rabu dan semalam sudah dipindahkan ke VIP A lt. 3.

Angel semakin bingung. Dua catatan suster di lt. 2 dan 3 sudah dia lihat sendiri dan di catatan itu memang ada nama Indra namun bukan Indra yang sama. Angel bicara sesaat dengan Dhita. Akhirnya mereka putuskan untuk kembali ke kamar Nyonya Indra untuk memastikan semuanya. Sayangnya mereka tetap tak mendapat hasil yang memuaskan karena tetap saja tak ada yang berani masuk ke kamar itu.

Pengunjung pasien yang ada di setiap kamar di koridor VIP A pun tak sedikit yang heran melihat tingkah dua cewek ini. Ada juga yang bertanya “Mau cari siapa?” dan mereka hanya menjawab “Temen.” sambil tersenyum. Ada juga yang mentertawai mereka karena ingin menjenguk orang yang tak mereka ketahui ruangannya. Info – info berbeda yang mereka dapat benar – benar berhasil membuat mereka terlihat seperti manusia konyol saat ini.

Angel dan Dhita menjauh dari VIP A. Mereka putuskan untuk pergi dan menuju VIP B. Mungkin Indra ada di sana. Tapi hasilnya tetap nol karena saat mereka bertanya “Suster, di sini ada pasien yang namanya Indra?” Hanya dijawab dengan ketus “Kalo nggak ada di papan pasien, berarti nggak ada.” oleh suster itu.

Angel nyaris putus asa. Dia tak tahu lagi harus mencari kemana. Berkali – kali dia coba menghubungi Ryan, tapi sekalipun tak ada jawaban. Nomor yang Angel yakini ada hubungannya dengan Indra juga tak sekalipun mengangkat telepon Angel. Nomor Indra, bahkan nomor tetangganya yang biasa membantunya juga tak ada yang bisa dihubungi. Satu – satunya nomor yang mengangkat telepon dari Angel hanyalah Rico, itupun tak bisa membantu Angel karena Rico beralasan sedang tak bisa menerima telepon karena akan pergi. Angel menatap Dhita yang terlihat sangat lelah. Mereka belum tahu kemana tujuan mereka setelah ini.
“Gimana, Dhit?” Tanya Angel.
“Terserah sih. Kalo masih mau nyari lagi ya udah.” Jawab Dhita.

Pilihan mereka berikutnya adalah mencoba mencari di setiap kamar yang ada di lt. 2 B. Mereka kembali melewati tangga. Perlahan Angel dan Dhita menyusuri satu – persatu ruangan kamar yang ada di lt. 2 B. Mereka beruntung karena pintu di setiap kamar terbuka. Jadi mereka bisa melihat dari jauh tanpa perlu masuk ke semua kamar.

***
Dua jam lebih lamanya Angel dan Dhita mengelilingi RS. Adam Malik. Tapi tak ada hasil yang mereka dapat. Tak ada sosok Indra yang mereka temukan selain Nyonya Indra. Mereka juga sudah mencari ke tempat pusat penderita kanker, tapi yang mereka dapat hanya ditertawakan saat mereka menggeleng ketika ditanya “Ada di ruang mana kata temannya?” Ditertawai memang hal wajar yang mungkin mereka terima untuk tindakan konyol ini.

Semua ruangan di gedung A rumah sakit ini dari lt. 1 sampai 3 sudah mereka lewati, bahkan ada daerah yang telah mereka lalui lebih dari satu kali sampe –sampe orang yang ada di sekitar tempat itu sudah menghapal wajah mereka.

Ada yang bertanya “Udah ketemu?” Hanya dijawab dengan gelengan oleh Angel. Satu hal yang akhirnya membuat Angel nyaris menyerah adalah ketika seorang suster berkata “Iya kalo memang sakit.”

Jam 6 sore. Sudah hampir tiga jam Angel disana bareng Dhita. Angel sudah benar – benar putus asa. Lelah, kesal, kecewa. Entah apa yang dia rasakan sekarang. Perasaannya berkecamuk. Pikirannya kacau. Jika ini memang permainan yang sengaja dibuat Indra, Angel patut mengucapkan selamat karena permainan ini berhasil membuatnya terlihat bodoh, konyol, lelah, bahkan mungkin gila.

Sekarang Angel dan Dhita sedang berada di lt. 1. Seorang suster menyarankan mereka untuk mencari di pusat informasi umum lt. 1. Jika di sana juga dikatakan tak ada Indra, berarti Indra memang tak pernah menjadi pasien di RS. itu.

Angel dan Dhita kembali memutari lt. 1. Mereka cukup kebingungan mencari letak pusat informasi umum tersebut karena daerah itu sangat luas. Seorang satpamlah yang akhirnya membantu mereka menemukan dimana pusat informasi itu.

Dan setelah Angel bertanya di sana, mau tak mau dia harus bisa menerima bahwa selama tiga jam ini dia telah sukses berperan sebagai orang terkonyol sedunia. Tak ada satupun pasien bernama Indra di sana selain Nyonya Indra S. Nyonya Indra Sabrina. Entah apa yang membuat nama dan ciri – ciri Indra yang dia maksud ada pada suster di lt. 2, Angel tak mengerti. Dia juga tak berniat kembali ke tempat itu karena itu hanya sia – sia. Satu – satunya hal yang akan segera dia lakukan adalah pergi ke gedung B. Orang di bagian informasi umum yang menyarankannya. Dan jika tak juga ada Indra di sana, itu artinya Angel harus segera pulang.

Angel dan Dhita berjalan menuju Gedung B RS. itu. Mereka langsung menuju pusat informasi yang ada di sana, tak juga ada pasien bernama Indra. Baiklah. Semua tempat yang ada di RS. ini kecuali toilet dan kamar mayat sudah Angel kelilingi. Tak ada Indra, atau tepatnya TAK’KAN PERNAH ADA.

Angel tak berpikir panjang lagi. Satu hal yang akan dia lakukan hanyalah menelepon Rico. Anak itu harus menjelaskan arti dari semua ini.

Tak lama setelah private number Angel masuk, Rico mengangkat telepon itu. Angel tak memilih untuk langsung memaki – maki Rico karena dia yakin itu bukan pilihan yang tepat.

Rico masih saja berbohong dan mengatakan “Indra di rawat di R. Melati, RS. Adam Malik.” Ketika Angel menanyakan keberadaan Indra pada cowok itu. Namun Rico tak mampu lagi berkelit ketika Angel berkata “Dia sudah tiga jam keliling RS. ini dan tak menemukan R. Melati, apalagi Indra di RS. ini.”.
Kemarahan Angel akhirnya memuncak ketika Rico menjelaskan semuanya. Menjelaskan bahwa INDRA BERBOHONG. Dia tak pernah dirawat di RS. manapun dan dia sama sekali tak menderita kanker otak. Dia memang sakit. Tapi sakit pencernaan. Kanker otak hanyalah karangannya sendiri yang entah untuk apa dia katakan dan itu bukan prediksi dokter sama sekali.

Ingin rasanya Angel melampiaskan semuanya pada Rico, namun dia sadar ini bukan salah anak itu. Angel malah harusnya berterimakasih pada Rico karena jika tanpa Rico hingga kapanpun Angel akan menjadi manusia KONYOL yang mencemaskan orang yang sebenarnya baik – baik saja. Angel menyampaikan pada Rico segala yang telah dia lakukan karena kebohongan – kebohongan Indra. Segala kebodohannya, pengorbanannya, dan Rico hanya mampu berkata “Maaf” untuk semua itu.
Percuma jika Angel terus memaki Rico lewat telepon karen bukan dia akar dari semua ini. Angel meminta Rico menyerahkan telepon itu pada Indra, namun Rico bilang Indra tak ada di sana. Angel memang tak percaya, namun dia tak ingin memaksa.

“Ya udalah Co. Makasih buat semuanya. Makasih karena kamu dan Ryan udah bantuin Indra. Aku nggak tahu apa salah aku sama kalian. Tapi kalian memang SEKUMPULAN PEMBOHONG HEBAT. Bilang sama Indra, setelah aku dengar cerita dia, aku pikir Ryan itu manusia paling brengsek. Tapi ternyata sekarang dia udah buktikan sendiri omongan orang – orang kalo dia memang lebih brengsek dari Ryan. AKU BENCI SAMA INDRA.” Angel menutup telepon itu.

***
Hari sudah gelap, tapi Angel belum juga pulang ke rumah. Dia malas untuk pulang. Angel ingin menenangkan pikirannya dulu. Saat ini dia sedang berada di warnet bareng Dhita.

Facebook atau Fb. Tak sekalipun terlintas di benak Angel untuk berniat memiliki Fb. Dia tak perduli walau orang berkata dia ketinggalan zaman karena tak punya Fb. Yang dia tahu adalah dia tak akan pernah buat Fb.

Tapi entah apa yang terjadi pada Angel saat ini. Entah apa yang mendorongnya untuk segera ingin punya Fb. Dia pun tak mengerti. Yang Angel tahu adalah saat ini juga dia ingin punya Fb.

Dhita yang membantu Angel. Tak membutuhkan waktu yang lama, kini Angel sudah punya Fb. Hal pertama yang Angel lakukan adalah meng – add teman sebanyak mungkin. Segalanya Angel lakukan dengan bantuan Dhita. Semua orang yang dia kenal sudah Angel add, kecuali Ryan dan Indra. Angel masih belum yakin.

Angel sudah selesai dengan Fb – nya. Kini giliran Dhita yang sibuk dengan Fb – nya sendiri. Entah apa saja yang diutak –atik Dhita, Angel tak terlalu perduli. Dia sibuk dengan lamunannya sendiri tentang apa saja yang telah dilakukannya saat ini. Hingga...

“Ngel, lihat!” Dhita tiba – tiba saja membuyarkan lamunan Angel. Suara Dhita tak terdengar datar. Dia seperti baru melihat hal yang penting dan mengejutkan.

Angel mengalihkan perhatiannya pada hal yang ditunjukkan Dhita. Mata Angel menatap kaget ke arah layar komputer di hadapannya. Kedua tangannya menutup mulutnya yang terbuka karena nyaris merasa tak percaya akan apa yang telah dia lihat.
Ternyata Dhita baru saja iseng melihat Fb Indra dan hal yang dia temukan di sana adalah....... Indra telah menjalin hubungan dengan orang lain??? Dan itu malah sudah terjadi beberapa hari sebelum Indra berkata bahwa dia masih menyayangi Angel??? Yang artinya Indra mengatakan dia masih menyayangi Angel saat dia telah berhubungan dengan cewek lain?? Lalu apa arti semua ini???

Angel tak mampu berkata apa – apa. Dia hanya diam, berusaha menahan amarah dan emosi yang ingin segera dia luapkan. Entah apa yang ingin dia lakukan pada Indra jika saat ini bajingan itu ada di hadapannya. Entah kesalahan apa yang telah dia lakukan hingga perlakuan ini yang dia dapat dari Indra.

Wajah Angel benar – benar merah menahan marah. Matanya terlihat berkaca – kaca. Wajar jika saat ini dia ingin menangis karena bajingan itu berhasil membuat hatinya sangat – sangat hancur.

Tapi Angel sadar ini tempat umum. Satu – satunya yang Angel lakukan saat ini hanya memukuli lututnya sendiri sekeras mungkin untuk meluapkan emosinya. Dia tak perduli sesakit apa rasanya, karena rasa sakit itu tak akan lebih sakit dari rasa sakit yang ada di hatinya saat ini.

Baru saja Angel ingin meyakinkan hatinya untuk memaafkan kebohongan Indra tentang penyakit itu, tapi apa yang baru saja dia lihat membuat niat itu terbuang jauh dari pikirannya. Angel memang pernah berkata “Jika Indra mulai bosan padanya, Indra lebih baik meninggalkannya daripada menduakannya.” Hal itu sesaat menjadi pertimbangan Angel untuk mampu merelakan hal ini. Tapi segalanya lenyap begitu saja ketika Angel kembali ingat perkatan Indra “Dia bersumpah demi Tuhan kalo dia nggak akan pernah menyakiti ataupun meninggalkan Angel”.

Angel kembali mencari hal – hal yang mampu membuatnya rela memaafkan Indra. Dia memaksa hatinya untuk bersabar walau dia tahu saat ini itu terasa sangat sulit. Angel kembali mengingat bahwa dia pernah berkata “Lebih baik Indra mengakhiri hubungan ini karena ada cewek lain daripada karena penyakit itu.” Tapi kini Angel sadar bahwa ternyata semua tak semudah itu. Hatinya tak sesanggup itu menerima kenyataan ini. Semua terlalu sulit untuk diterima dan dijalani, apalagi setelah mengingat apa saja yang telah Angel lakukan selama ini. Angel juga tak tahu apa yang paling membuat semua sangat terasa sesakit ini.

Kebohongan Indra telah membuat Angel banyak melakukan hal dan pengorbanan konyol. Ada seminggu yang dia lalui tanpa belajar dan semangat hidup. Seminggu ini juga, tiap malam dia harus selesaikan 65 doa dengan menggunakan untaian kalung Rosario. Dalam doa itu Angel berharap agar operasi Indra berhasil. Hari ini, tiga jam lamanya dia memutari seluruh isi Adam Malik untuk mencari Indra yang ternyata tak pernah ada di sana bahkan tak sakit. Dia juga sudah browsing tentang segala hal yang berhubungan dengan kanker otak di internet untuk mengetahui apakah ada info yang mungkin dia dapat untuk membantu agar Indra bisa sembuh. Tapi apa yang dia dapat?? Tumpukan hal mengagetkan yang harus dia terima sekaligus dalam satu hari. Dan ditutup dengan kenyataan paling menyakitkan bahwa di atas kekonyolan menyedihkan yang dia lakukan itu Indra sedang bersenang – senang karena baru jadian dengan orang lain????

Sekarang Angel mengerti kenapa seperti ada feeling yang mendorongnya untuk tak membawa apa – apa saat menjenguk Indra. Itu karena Indra memang tak ada di sana. Tak bisa dibayangkan betapa semakin terlihat bodohnya Angel jika saja dia jadi membawa sesuatu, tapi dia harus membawa pulang lagi apa yang dia bawa itu.

Angel juga mengerti kenapa ada feeling yang membuatnya takut jika saja akan menemukan Lola di kamar Indra. Ternyata itu karena Indra memang sudah kembali pada Lola sekarang. Ya... cewek yang baru saja jadian dengan Indra itu adalah Lola. Lola, mantan yang kata Indra sudah tak ingin dia lihat, dia kenal, dan dia perdulikan lagi namun masih tetap saja menggangu hidupnya dan mengharap cintanya.

Angel tak tahu apakah hal untuk membuat Fb juga termasuk dorongan feeling yang memaksanya agar dia mengetahui kenyatan bahwa Indra telah bersama yang lain.

Angel tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Menahan rasa sakit yang tak bisa diluapkan dengan tangis ini saja sudah terasa sangat melelahkan baginya.

Angel mengambil hapenya. Tangannya dengan gesit membuka daftar kontak, mencari nama Indra, dan... delete. Angel juga melakukan hal yang sama pada galeri hapenya. Saat itu juga dia menghapus foto Indra yang ada di sana. Hal berikutnya yang harus dia buang tentang Indra adalah semua sms – sms manis tetapi palsu dari Indra yang membuat Angel muak saat kembali membacanya. Angel menandai semua sms itu dan.... delete marked.... Kurang dari satu menit segala hal tentang Indra berhasil Angel buang dari hapenya. Tugasnya selanjutnya sekarang adalah mencoba membuang Indra, terlebih kesalahan dan kebohongannya dari hati dan pikirannya. Dia tahu ini sulit, tapi Angel tak perduli. Kali ini dia harus dapat memaksa agar hati dan pikirannya bisa kompak.
“Sabar ya, Ngel. Suatu saat pasti dia dapat karmanya.” Dhita mengusap lembut bahu Angel.
“Kita pulang, Dhit.” Ucap Angel akhirnya.

***
Bulan April. Sudah hampir tiga bulan kejadian itu berlalu, tapi bagian demi bagiannya masih belum dapat lekang dari ingatan Angel. Rasa sakit itu memang hampir lenyap, tapi belum seutuhnya. Pada awalnya terasa sangat sulit bagi Angel untuk memaafkan Indra. Terlalu dalam luka yang digoreskan orang itu di hatinya. Apalagi ditambah dengan kebohongan – kebohongan baru yang Angel tahu dari orang lain setelah mereka putus dan membuat Angel semakin muak. Indra juga masih saja mengganggu Angel setelah mereka putus.

Beberapa hari setelah kejadian Adam Malik itu, orang yang Angel yakin ada hubungannya dengan Indra kembali menghubunginya. Orang itu berkata bahwa dia merasa terganggu karena nomor Angel yang tak dia kenal selalu mengganggu masuk ke hapenya. Angel hanya tertawa geli saat membaca sms itu. Seingat Angel nomor orang itulah yang lebih dulu masuk ke hapenya. Lagi pula sejak kejadian itu Angel sudah tak pernah menghubunginya lagi. Saat Angel menghubungi nomor itupun yang dia gunakan adalah private number. Tapi Angel memilih untuk pura – pura bodoh dan minta maaf telah mengganggu orang itu. Sampai pada akhirnya orang itu mengaku kalo namanya adalah Dika dan dia mendapat nomor Angel dari Indra. Dan setelah Angel mengetahui hal itu dia hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati “Udah kuduga...”

Seminggu setelah kejadian di Adam Malik itu, Angel sempat kembali berhubungan dengan orang yang sudah lama tak berhubungan lagi dengannya. Orang yang juga mengenal Indra. Banyak kebohongan – kebohongan Indra yang disampaikan orang itu. Kebohongan tentang status Indra di band Ryan dan teman – temannya. Orang itu bilang bahwa Indra bukanlah anggota band Ryan. Dan apa alasan Indra untuk mengatakan bahwa dia adalah anggota band Ryan, Angel pun tak mengerti. Orang itu juga mengatakan bahwa Indra tak pernah sakit apalagi dirawat di RS. Entah berapa kebohongan Indra yang Angel dengar dari orang itu dan membuatnya kaget, Angel nyaris tak ingat lagi. Yang dia ingat hanyalah saat mendengar hal itu dia hanya bisa tersenyum. Senyum yang dia sendiripun tak tahu apa maknanya.

Pada awal bulan Maret, Indra sendirilah yang meng-sms Angel entah dengan nomor siapa. Yang membuat Angel heran adalah pada saat itu Indra masih bisa – bisanya menggunakan kata “Sayang”, padahal setahu Angel saat itu Indra masih jalan dengan Lola. Yang membuat Angel semakin muak adalah ketika Indra masih saja berbohong soal penyakitnya. Dan untuk hal ini, entah sudah yang keberapa kalinya Angel memilih untuk berpura – pura tidak tahu.

Waktu itu Indra meng-sms Angel sekitar jam 12 malam. Sejak sms pertama masuk Angel sudah tahu kalo itu memang Indra. Tapi terlalu mudah rasanya jika dia langsung mengatakan dia tahu. Tindakan Angel itu akhirnya berhasil mengecoh Indra. Cowok itu kemudian memberi bukti – bukti yang menunjukkan kalo dia memang Indra. Yang membuat Angel lumayan kaget adalah ketika Indra mengirimkan kembali sms –sms yang pernah Angel kirim padanya dulu, bahkan sms sebelum mereka jadian hanya untuk membuktikan bahwa dia memang Indra. “Bagaimana mungkin orang yang sudah menjalin hubungan dengan orang lain masih tetap menyimpan sms – sms dari mantannya?” Tapi Angel tak menanyakan hal itu. Dia hanya menyimpan pertanyaan itu di hatinya sendiri.

Hal yang membuat Angel tak habis pikir adalah ketika Indra minta maaf padanya untuk kesalahan yang tak ingin dia sebutkan. Dan ketika Angel bertanya kenapa Indra baru minta maaf sekarang, cowok itu masih saja bermain dengan kebohongannya dengan mengatakan “Selama sebulan ini dia dirawat di RSCM, Jakarta dan sama sekali nggak bisa megang hape.” Ketika itu Angel hanya menggeleng dan berkata dalam hati “Bagaimana bisa orang yang sedang koma di RS. dan tak bisa memegang hape, tapi mampu selalu meng-update status di Fb nya??”
Indra juga berkata bahwa “Operasinya lancar dan dia sengaja menyuruh agar orang – orang di sekitarnya tidak memberitahu keberadaannya pada Angel karena tak ingin Angel cemas.” Angel nyaris tak sabar ingin memaki Indra dan mengatakan bahwa dia sudah tahu kebohongan cowok itu, jadi Indra tak perlu membohongi Angel lagi.
“Rico sudah jelas – jelas mengatakan bahwa dia tak sakit, tapi dia masih bisa bilang kalo operasinya berjalan lancar?? Apa jangan – jangan Rico belum memberitahu Indra kalo Angel sudah tahu semuanya??” Pertanyaan itu hanya bisa Angel simpan di dalam hatinya. Dia mengurungkan niatnya untuk memberitahu Indra kalo dia sudah tahu semuanya karena dia ingin melihat sejauh mana Indra akan melanjutkan permainan dan kebohongannya.

Sms – an itu berakhir setelah Angel membalas sms Indra dengan “SELAMAT UDAH BALIKAN SAMA LOLA.... :)” Indra tak membalas lagi sms Angel yang satu ini. Entah apa yang dipikirkan Indra tentang isi sms itu, Angel tak perduli.

Gangguan terakhir yang diterima Angel dari orang – orang di sekitar Indra adalah ketika Dika kembali meng-sms-nya setelah seminggu yang lalu Angel mendapat sms dari Indra. Isi sms itu adalah “Dika mengajak Angel keluar dan dia sanggup membayar berapapun yang Angel mau.” Dengan kata lain, Dika menganggap bahwa Angel adalah cewek bayaran. Dika hanya menjawab “Ada teman yang bilang” Ketika Angel bertanya “Siapa yang bilang kalo dia itu cewek bayaran?”.

Tanpa perlu ditanya lagi, Angel sudah tahu kalo teman yang Dika maksud adalah Indra. Karena dia masih ingat jelas bahwa Dika bilang dia dapat nomor Angel dari Indra. Sms ini harusnya pantas membuat Angel berang, tapi Angel lebih memilih untuk tetap bersabar. Menurutnya tak ada gunanya dia memaki Dika saat ini. Lagi pula Angel merasa tak pantas disebut orang berpendidikan jika dia memaki – maki orang lain, apalagi makian itu ditujukan lewat sms. Menurut Angel menghadapi orang – orang seperti Indra lebih baik dilakukan dengan menggunakan hati, bukan emosi. Angel tak tahu apa maksud Indra dengan semua ini, tapi dia juga tak ingin tahu.

Sms itu berakhir setelah Angel membalas “Sorry ya... salah orang ” Dan tak ada satupun lagi balasan dari Dika.

Sejak saat itu, Indra atau teman - temannya tak pernah mengganggu hidup Angel lagi. Tapi maaf dan pengakuan Indra yang selalu Angel tunggu juga tak datang hingga kini. Entah itu yang membuat Angel begitu sulit memaafkan Indra dan menghilangkan nama Indra sebagai daftar orang yang paling dia benci, Angel juga tak mengerti.

Yang Angel mengerti adalah betapa sulit rasanya untuk melupakan kesalahan Indra, betapa sulit rasanya memaksa hatinya untuk ikhlas memaafkan meskipun pikirannya telah berusaha keras memaksa, betapa tersiksanya dia menahan kebencian pada Indra, betapa masih takutnya Angel membuka hati untuk orang baru karena perbuatan Indra, betapa mahalnya harga pelajaran yang dia dapat karena perbuatan Indra, dan apakah dia masih membenci Indra atau tidak, hanya dia yang menahan rasa itu sendirian.

Namun walaupun demikian, walau banyak juga teman – temannya yang mengetahui masalah ini menyarankan Angel untuk balas dendam, Angel tak melakukannya. Baginya balas dendam bukanlah pilihan yang tepat. Pilihan yang Angel lakukan adalah dalam setiap doanya dimanapun dia berada, Angel masih tetap berdoa untuk Indra agar dia baik – baik saja. Sampai kapanpun Angel tak akan mengatakan pada Indra bahwa dia telah mengetahui kebohongan cowok itu. Dia akan tetap diam dan menunggu sampai Indra mengaku sendiri, dengan kesadarannya sendiri. Dan jika pengakuan itu TAK’KAN PERNAH ADA, Angel hanya akan menganggap bahwa ini semua adalah takdir yang harus dia jalani.

Angel berjanji pada dirinya sendiri TAK’KAN PERNAH ADA pacar terbaik sekaligus mantan terbrengsek seperti Indra lagi yang bisa mengganggu hidupnya, TAK’KAN PERNAH ADA lagi pembohong seperti Indra yang mampu menghancurkan hatinya dan memberikan kekonyolan pada dirinya, TAK’KAN PERNAH ADA lagi orang yang akan membuatnya harus melakukan pengorbanan gila seperti yang telah dia lakukan untuk Indra, TAK’KAN PERNAH ADA lagi orang yang dulunya pernah dia sayang namun sekarang sangat dia benci seperti Indra, TAK’KAN PERNAH ADA lagi orang yang tak menyakitinya seperti Ryan, namun menyakitinya lebih daripada yang telah dilakukan Ryan, dan mungkin TAK’KAN PERNAH ADA lagi seseorang yang bisa menanamkan kebencian dan sakit hati yang begitu dalam di hatinya seperti Indra, namun masih saja dia doakan agar orang itu tetap baik – baik saja. TAK’KAN PERNAH ADA..............

Kamis, 30 September 2010

" MIMPI "

Telah lama Ak menyendiri, sendiri n trus sendiri..
Menangis terpaku d atas kesedihan Ku..
Ak percya bahwa TUHAN kan menunjukkan jalan yg terbaik kpada ku..
Tuk mendapaatkan seorang kekasih yg setia kpad Ku..
N Ak pun tdak akan menyia"kan diri nya..
Dtanglah wahai gadis impian Ku..
Dtanglah kdalam mimpi Ku..
N Ku berharap mimpi it bsa menjadi kenyataan..

" Di Balkon Rumah Ku "

Di balkon rumah aq.
Aq menikmati mlam yg membawa kesunyian.
Di antara gemerlap bulan n bintang" yg bersinar terang.

KU duduk sndiri d balkon rumah aq smbil menikmati secangkir susu hangat.
Aq membayangkan wajah seorang gadis yg benar" aq cintai.
Tpi..ntah mengapa gadis it tdak percaya bhwa aq sngat mncintai nya.
Hanya Tuhanlah yg tau isi hati qu.
Bahwa qu sangat mncintai mu.

Aq neh emank lelaki yg bodoh.
N aq neh lelaki yg lemah.
Yg terus terlarut dlam cinta.
Karena aq memang mmbutuhkan cinta yg tulus.

" CINTA "

CINTA....
Dia adalah kbtuhan bagi jiwa...
Dia bagaikan semilar angin dikala jiwa dilanda terik dan panas tak tertahan...
Cinta ...kadang menyakiti...karena Dia sayang
Cinta kadang lembut disaat kita butuh ketenangan...
Cinta sejati tidak akan ingkar meski Dia harus mengorbankan diri...
Cinta akan selalu berbagi...
Cinta selalu hadir dan menanti..
Disaat para pecinta terluka...
Cinta...akan menatapdari jauh ketika diajuhi,namun Dia menanti dengan penuh harap segera kembali bersatu...
Cinta adalah kebutuhan jiwa yang tidak akan pernah ingkar janji....Meski dalam kerapuahannya
Cinta...Dia yang selalu menantimu... disaat semua menjauhimu..
Dia yang akan menghapus air mata disaat engkau menangis...
Dan Dia yang akanmengulurkan tangan ketika engaku terjatuh...
Dan... engkau punya Cinta it.